Tuesday, November 19, 2013

Bercemin dan tertawakan diri anda!

Kebobrokan negeri ini tidak perlu kita salahkan siapapun. Tak perlu kita katakan, Politisi A muka dua, Presiden Anu lebay, Partai X sok suci. Legislatif korup, Yudikatif menjual diri, dan lain sebagainya.

Berceminlah dan tertawakanlah diri anda sendiri. Karena bobroknya negeri ini cermin diri kita.

Ulama besar Ibnu Qoyim Al Jauziyah mengatakan, 

"Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zalim. Jika adanya penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rosak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rosak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan kesan dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala." (Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)

Inilah azab Allah kepada kita, karena kita sebagai warga negaranya tidak ingin perubahan, hanya bermimpi mempunyai Ratu Adil secara instan datang dari langit. Ingat azab berlaku kepada seluruh penduduk negeri, termasuk orang-orang yang beriman.

So, masihkah kita akan terus berharap ratu adil secara instan? Ataukah kita mau secara bersama-sama melakukan perbaikan itu? Ingat perubahan yang kita lakukan sekarang tidak serta merta kita petik esok, tapi yakinlah perbaikan itu dicatat sebagai amal baik kita yang menolong negeri ini di masa yang akan datang.

Wallau 'alam

No comments:

Post a Comment