Saturday, January 9, 2016

Empat Level Membaca Al-Quran

“Bacalah…”, “Iqra’…” Perintah pertama, wahyu pertama, dan kunci pertama Allah ajarkan untuk Nabi Muhammad SAW dan Umatnya. Apa artinya?
Ada arti yang luar biasa strategis diinginkan dengan agama Nabi Muhammad SAW ini. Untuk bisa lebih memahami pentingnya perintah membaca ini, mari kita bandingkan Umat Muhammad dengan umat-umat sebelumnya.
Untuk meyakinkan membuat Fir’aun dan kaum Nabi Musa, Allah menunjukkan kemukjizatan yang irasional, yaitu tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Nabi Isa, Allah berikan kemampuan menghidupkan orang mati, membuat orang buta bisa melihat, menyembuhkan penyakit lepra yang di kala itu tidak dapat disembuhkan sama sekali. Bagaimana dengan Umat Muhammad SAW? Rasulullah bersabda:
“Tidak seorang nabi pun melainkan diberikan (mukjizat) yang membuat manusia beriman terhadap hal-hal seperti itu. Sedangkan yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Dan aku berharap menjadi (nabi) yang paling banyak pengikutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Mukjizat Nabi Muhammad SAW bukan hal-hal yang irasional. Nabi Muhammad mengajak umat manusia beriman atas dasar kerja akal dan proses berpikir rasional. Mari renungkan perintah Allah untuk membaca tersebut:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Apa yang diperintahkan untuk dibaca? Tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Karena yang lebih penting adalah bagaimana proses membaca dilakukan. Sangat banyak hal-hal yang harus dibaca. Supaya proses membaca menjadi efektif dan bermanfaat, Allah ajarkan adalah bagaimana kita membaca. Karena itu secara gamblang Allah jelaskan how to-nya: “Bacalah dengan nama Sang Pencipta.” Proses membaca yang bermanfaat yang mendorong pada keimanan kepada Sang Pencipta. Kegiatan membaca yang efektif adalah membaca yang dimulai dengan keberkahan iman kepada Allah. Allah yang menciptakan manusia. Allah merupakan sumber ilmu. Allah yang dengan murah hati memberikan karunia-Nya kepada hamba-Nya.
Bahan bacaan yang paling baik adalah al-Qur’an. Kualitas bahan bacaan selalu ditentukan oleh kualitas sumbernya. Membaca tulisan yang dikarang seorang pakar di bidangnya tentu jauh bermanfaat dibandingkan tulisan yang dikarang oleh orang awam.  Lalu bagaimana dengan bahan bacaan yang berasal dari Sang Pencipta Langit dan Bumi?
Membaca al-Qur’an berarti mengkonsumsi informasi yang paling berkualitas yang ada pada umat manusia. Membaca al-Qur’an berarti menyerap ilmu yang paling tinggi yang mungkin diraih manusia. Membaca al-Qur’an berarti melakukan peningkatan cakrawala dengan sarana terbaik. Membaca al-Qur’an berarti meningkatkan kualitas diri dengan nara sumber yang paling ideal yang tidak terbayangkan ketinggian kualitasnya.
Ada empat level dalam membaca al-Qur’an. Semuanya penuh berkah dan manfaat. Semakin tinggi level membaca seseorang, semakin besar manfaat yang diperoleh.
Level Pertama: Mengucapkan al-Qur’an dengan Benar
Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para ulama sangat memberikan perhatian yang besar terhadap bagaimana mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an secara baik dan benar. Karena bentuk ideal transfer informasi adalah penyampaian redaksi secara tepat. Kesalahan pengucapan berakibat buruk pada proses transformasi informasi. Kalimat-kalimat ilahi dalam al-Qur’an bukan saja memuat informasi dan ajaran kebenaran dan keselamatan, tetapi juga memuat keindahan bahasa, ketinggian kualitas sastra, serta keagungan suasana ilahiyyah. Karena itu dalam membaca al-Qur’an sangat dianjurkan untuk memperhatikan adab-adabnya, seperti harus dalam keadaan suci, berpakaian menutup aurat, membaca dengan khusyu’, memperindah suara semampunya, dan memperhatikan tajwidnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Perindahlah al-Qur’an dengan suara kalian.” (HR Abu Daud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Al-Qur’an adalah kata-kata dari Allah yang Maha Indah, karena itu semaksimal mungkin kita menerjemahkan keindahan tersebut dengan cara kita membaca. Meskipun demikian bukan berarti mereka yang tidak mampu mengucapkan al-Qur’an dengan fasih mereka tidak boleh membaca al-Qur’an. Cukup bagi seorang mukmin untuk berusaha sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda:
“Orang mahir membaca al-Qur’an, bersama dengan malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca al-Qur’an terbata-bata dan mengalami kesulitan (mengucapkannya) dia mendapatkan dua pahala.” (HR Muslim)
Subhanallah, ini adalah kemurahan Allah SWT. Yang membaca al-Qur’an dengan penuh kesulitan dan terbata-bata Allah justru memberi dua pahala, yaitu pahala mengucapkan al-Qur’an dan pahala menghadapi kesulitan. Meskipun demikian yang mahir tetap mendapatkan kelebihan derajat yaitu kemuliaan bersama dengan para malaikat.
Level Kedua, Membaca dengan Pemahaman
Maksud dari semua perkataan adalah pemahaman terhadap makna dari perkataan tersebut. Demikian juga al-Qur’an. Allah menurunkan al-Qur’an kepada umat manusia bukan sekadar dibunyikan tanpa dipahami. Al-Qur’an bukanlah mantera-mantera yang diucapkan dengan komat-kamit. Al-Qur’an adalah petunjuk. Dan al-Qur’an tidak akan menjadi petunjuk jika maknanya tidak dipahami. Allah mengecam Ahlul Kitab yang merasa memiliki kitab suci tetapi tidak mengetahui isinya, Allah berfirman:
“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali angan-angan belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS.Al-Baqarah: 78).
Allah menyebut Ahlul Kitab sebagai “ummiyyin” padahal mereka mampu membaca dan menulis, tetapi karena mereka tidak mengetahui isi Kitab Suci mereka Allah menyebut mereka sebagai buta huruf. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna kata “amani” artinya membaca. Berdasarkan tafsir ini, kita memahami bahwa membaca saja tidak membuat kita mendapatkan hidayah jika kita tidak memahami dan mengetahui makna kalamullah.
Untuk memahami al-Qur’an tentu saja perlu mempelajari bahasanya. Bagi yang tidak mengetahui bahasa Arab, membaca terjemahan atau tafsir berbahasa Indonesia bisa dijadikan pengganti sebagai langkah darurat. Saya katakan itu adalah langkah darurat, karena ketinggian bahasa al-Qur’an tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Terjemahan al-Qur’an hakikatnya hanyalah terjemahan dari pemahaman sang penerjemah. Bahkan jika kita tanya kepada siapapun yang menerjemahkan al-Qur’an, pasti dia akan mengatakan tidak semua makna yang dikandung oleh lafal-lafal al-Qur’an dapat ditemukan padanannya pada bahasa lain.
Setingkat lebih baik dari terjemah al-Qur’an adalah terjemahan tafsir al-Qur’an, atau tafsir yang memang ditulis dalam bahasa Indonesia. Siapapun yang ingin mempelajari isi al-Qur’an tidak boleh melewatkan kitab-kitab tafsir. Seorang yang ahli bahasa Arab pun tidak akan tepat memahami al-Qur’an jika tidak mempelajari kitab tafsir. Karena sebagaimana halnya semua bahasa yang hidup adalah dinamis. Tidak semua kata-kata yang dipakai orang zaman sekarang memiliki makna yang sama dengan makna yang dipakai pada zaman turunnya al-Qur’an. Misalnya, kata ‘sayyaroh’ pada zaman ini berarti mobil, sedangkan dalam al-Qur’an ‘sayyaroh’ berarti kafilah dagang. Kata ‘qoryah’ di zaman sekarang dipakai untuk makna desa, sedangkan dalam al-Qur’an artinya adalah kota atau negeri.
Di sisi lain kitab-kitab tafsir beragam kualitasnya sesuai dengan kapasitas keilmuan penulisnya. Yang paling dekat dengan kebenaran adalah yang paling banyak menggali pemahaman dari wahyu itu sendiri. Metode yang paling baik dalam menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan Hadits Nabi, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan perkataan tabi’in, kemudian menafsirkan al-Qur’an dengan kaidah bahasa. Kitab tafsir yang paling baik menerapkan metode ini adalah Tafsir Ibnu Katsir.
Dikarenakan al-Qur’an kitab yang universal, maka setiap masa selalu membutuhkan penafsiran yang mengupas al-Qur’an terkait dengan isu-isu kontemporer. Pada abad ke-19 dan ke-20 muncul tafsir-tafsir kontemporer seperti al-Manar karya Rasyid Ridho, at-Tahrir wat-Tanwir karya Ibnu Asyur, Adhwa-ul Bayan karya Muhammad Amin asy-Syinqithy, dan yang fenomenal adalah Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb.
Level Ketiga, Membaca dengan Tadabbur
Al-Qur’an mendorong manusia untuk memfungsikan akal dan hatinya lebih jauh dari sekadar memahami, walaupun level memahami al-Qur’an adalah level aktivitas otak yang tinggi. Jika seseorang memahami Kalamullah berarti dia telah mencerna informasi yang luar biasa tinggi kualitasnya. Tetapi ternyata Allah menginginkan kapasitas pemikiran seorang muslim bergerak lebih jauh. Al-Qur’an mendorong akal dan hati untuk mentadabburi al-Qur’an. Tadabbur berarti deep thinking, merenungi, memperhatikan secara mendalam, menggali hakikat yang tersimpan di balik kata-kata, dan menyingkap horizon di belakang makna.
Hal itu karena hakikat-hakikat yang terangkum dalam al-Qur’an tidak semuanya hakikat yang permukaan yang sederhana dan mudah ditangkap. Banyak hakikat-hakikat yang membutuhkan pemikiran yang dalam, perenungan yang jauh serta pandangan yang tajam. Dan hal itu tidak mungkin didapatkan hanya sekadar dengan menangkap lapisan luar lafal-lafal al-Qur’an. Lebih jauh bahkan Allah menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuan agar manusia mentadabburi ayat-ayat-Nya. Allah berfirman:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 76).
Untuk mentadabburi ayat-ayat Allah diperlukan hati yang bersih dan pemikiran yang tajam. Hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan mampu melihat secara jernih, karena syahwat akan banyak berbicara dan mengendalikan hati.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. al-Jatsiyah: 23). 
Ayat-ayat Allah yang terbentang di alam semesta juga hanya dapat ditangkap dan dipahami oleh hati-hati yang bersih.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab)” (QS. Ali Imran: 190). 
Level Keempat, Membaca dengan Khusyu’
Masih ada plafon yang lebih tinggi di atas tadabbur? Ya, al-Qur’an terus mendorong manusia untuk terbang tinggi menuju ketinggian ruh, masuk ke alam penuh dengan keagungan ilahi dengan hati khusyu’ ruh sang mukmin menyaksikan keagungan Allah.
Setelah hati mampu melihat alam di belakang dunia materi, memahami hakikat di balik fenomena alam, ketika tirai tersingkap, hati mukmin yang mentadabburi al-Qur’an luluh. Hati tunduk melihat kebesaran Allah. Kulit bergetar merasakan keagungan Hakikat Mutlak.
“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. az-Zumar: 23). 
Orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan ilmu ilahi, orang-orang yang kedalaman ilmunya kokoh akan bersujud tunduk, mata mereka akan memancarkan air mata kekhusyu’an setiap kali mereka diingatkan dengan ayat-ayat Allah, setiap kali hati mereka tersentuh dengan Kebenaran Ilahi Mutlak.  
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (108) dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. (109) dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. al-Isra’: 107-109).

Gerakan Sholat Menjadi Jalan Hidayah 38 Tentara Korea

Islamedia – Hidayah memeluk Islam memang bisa datang kapan saja dan terkadang datang dalam kondisi yang tak terduga sebelumnya. Termasuk hidayah yang dialami 38 tentara asal Korea Selatan.
Kejadian berawal ketika Kapten San Jin-Gu yang merupakan komandan Brigade-11 SF ditugaskan oleh negaranya sebagai pasukan perdamaian PBB untuk ditugaskan di Irak Utara, tepatnya diwilayah Irbil.
Takdir Allah, lokasi markas pasukanya berada persis disebelah masjid, jadi hampir 5 waktu sekali senantiasa menyaksikan Ibadah Umat Islam menjalankan Sholat.
Kapten San Jin-Gu mengaku kagum dengan gerakan Sholat karena sangat unik, karena penasaran akhirnya Jin-Gu mencoba menirukanya dikamar pribadinya. Kejadian yang sangat mengejutkan adalah ketika mencoba gerakan Sholat, ada suasana tenang dalam diri.
Akhirnya gerakan sholat yang telah dipraktekanya kemudian jadikan program meditasi di pasukan yang dipimpin San Jin-Gu selain grakan Yoga yang sudah biasa dilakukan. Menariknya para prajurit yang melakukan gerakan Sholat tersebut juga merasakan hal yang serupa yaitu hati merasa tenang dan damai.
Setelah beberapa waktu menjalankan gerakan Sholat, Kapten San Jin-Gu akhirnya mulai penasaran untuk lebih dalam mempelajari tentang Islam, hingga pada suatu titik akhirnya memutuskan diri memeluk Islam.
Kabar keinginan masuk Islam Sang Kapten akhirnya diutarakan kepada prajuritnya. “Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya itu, dan cahaya itu adalah Islam” Ujar Kapten San Jin-Gu.
Secara spontan 37 prajurit mengikuti Kapten San Jin-Gu dan mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandannya untuk juga memeluk Islam. [islamedia/mh]
Sumber : Rupa Info

Sunday, July 27, 2014

PANDUAN SINGKAT SHALAT DALAM PERJALANAN

Oleh Mochamad Ilyas*

•    Ketika seseorang melakukan perjalanan maka diperbolehkan baginya untuk meringkas shalat dan/atau menggabungkan dua shalat. Yang dimaksud meringkas (qashar) adalah menjadikan shalat Dzhuhur, Ashar, dan Isya menjadi hanya dua rakaat. Adapun yang dimaksud menggabungkan (jama’) adalah melaksanakan dua waktu shalat dalam satu waktu yaitu: menggabungkan pelaksanaan shalat Dzhuhur dan Ashar di waktu Dzuhur atau di waktu Ashar, dan menggabungkan pelaksanaan shalat Mahgrib dan Isya di waktu Maghrib atau di waktu Isya.

•    Seseorang dalam perjalanan diperbolehkan baginya melakukan meringkas/qashar shalat saja yaitu: shalat Dzuhur, Ashar dan Isya hanya dengan masing-masing dua rakaat saja dilaksanakan di waktunya masing-masing. Boleh juga baginya melakukan penggabungan/jama’ saja tanpa qashar yaitu: melakukan shalat Dzuhur dan Ashar di waktu Dzhuhur atau di waktu Ashar masing-masing empat rakaat, dan melakukan shalat Maghrib dan Isya di waktu Maghrib atau di waktu Isya masing-masing untuk shalat Maghrib tiga rakaat dan shalat Isya empat rakaat.

•    Demikian juga seseorang yang tengah dalam perjalanan dibolehkan meringkas (qashar) sekaligus menggabungkan (jama’) dua waktu shalat, yaitu: melakukan shalat Dzuhur dan Ashar di waktu Dzhuhur atau di waktu Ashar masing-masing dua rakaat, dan melakukan shalat Maghrib dan Isya di waktu Maghrib atau di waktu Isya masing-masing untuk shalat Maghrib tiga rakaat dan shalat Isya dua rakaat.

•    Terkait bagaimana niat melakukan shalat dengan cara diringkas dan/atau digabungkan, pada dasarnya tidak ada redaksi tertentu yang harus diucapkan saat berniat akan shalat. Cukup baginya berniat di dalam hati bahwa dirinya akan melaksanakan shalat dengan cara diringkas dan/atau digabungkan.

•    Melakukan shalat dengan cara diringkas dan/atau digabungkan diperbolehkan dilakukan di atas kendaraan termasuk ketika sedang berada di dalam pesawat. Adapun cara shalat di kendaraan/pesawat, jika memang di kendaraan/pesawat tersebut tersedia tempat untuk shalat maka kerjakanlah di tempat tersebut. Jika tidak tersedia maka kerjakanlah sesuai kemampuan dan kondisi yang memungkinkan. Biasanya posisi yang memungkinkan untuk melakukan shalat di kendaraan/pesawat adalah shalat dengan cara duduk di tempat duduk, caranya dengan shalat sambil duduk di tempat duduk dengan posisi mengarah ke arah mana saja kendaraan itu menghadap kemudian memulai shalat seperti biasa hanya saja saat akan ruku’ dan sujud tidak dilakukan secara normal, yaitu ruku’ dengan cara menundukkan kepala dan punggung kita ke bawah sementara dua telapak tangan kita ditempatkan di dua lutut. Adapun cara sujud sama seperti saat ruku’. Bagaimana cara membedakan ruku’ dan sujud ketika shalat sambil posisi duduk? Cara membedakannya adalah: saat sujud tundukkan kepala dan punggung ke bawah lebih rendah daripada saat melakukan ruku’.

•    Harus diperhatikan pula bahwa pelaksanaan shalat harus disesuaikan dengan waktu di mana kendaraan/pesawat tersebut berada. Dalam kaitan ini, disarankan untuk bertanya kepada kru pesawat terkait sedang berada di wilayah mana posisi pesawat sehingga kita dapat secara tepat melakukan shalat sesuai waktu wilayah posisi pesawat sedang berada.

•    Demikian juga, jika tidak memungkinkan berwudlu saat akan melaksanakan shalat di pesawat, maka diperbolehkan baginya untuk melakukan tayammum, yaitu bersuci dengan tanah/debu dengan cara menepuk dua telapak tangah kita ke kursi atau kabin pesawat lalu mengusap muka dan tangan sampai pergelangan tangan dengan dua telapan tangan tersebut.

•    Bagi seseorang yang tengah melakukan perjalanan tidak diwajibkan baginya untuk mengikuti shalat Jumát, namun ia tetap diwajibkan untuk melakukan shalat Dzuhur dengan cara diringkas (qashar) dan/atau digabungkan dengan shalat Ashar, baik pelaksanaannya itu di waktu Dzuhur atau di waktu Ashar. Namun demikian, jika tetap melakukan shalat Jumát, maka ia tidak perlu lagi melakukan shalat Dzhuhur.

•    Perlu diperhatikan bahwa penyebab diperbolehkannya untuk meringkas dan/atau menggabungkan shalat tersebut dikarenakan ia melakukan perjalanan, terlepas apakah perjalanannya tersebut dapat ditempuh dalam waktu singkat atau cepat, yang penting jarak tempuh seseorang tersebut sudah dikategorikan sebagai sebuah ‘perjalanan (safar)’. Memang terdapat perdebatan tajam di antara para fuqaha (pakar hukum Islam) terkait berapa jarak tempuh minimal sehingga dapat dikategorikan sebagai sebuah ‘perjalanan’. Perbedaan tajam tersebut lebih disebabkan karena Al-Qurán maupun hadits-hadits tidak secara definitif menyebutkan jarak tempuh minimal sehingga dapat dikategorikan sebagai ‘’perjalanan’’. Dalam kaitan ini Ibnu Taimiyyah, seorang pembaharu Islam, menjelaskan bahwa sebuah nama dimana secara bahasa dan Syariat tidak memberikan batasan/definisi, maka hal tersebut dikembalikan kepada kebiasaan/tradisi. Oleh sebab itu, ketika seseorang melakukan perjalanan dan itu secara kebiasaan/tradisi dikategorikan sebagai sebuah ‘’perjalanan/safar’, maka ketika itu pula diperbolehkan baginya untuk meringkas dan/atau menggabungkan shalat.

•    Demikian pula Syariat tidak secara definitif membatasi lama maksimal perjalanan sehingga seseorang dibolehkan untuk meringkas dan/atau menggabungkan shalat. Oleh sebab itu, lama maksimal perjalanan sehingga diperbolehkan baginya meringkas dan/atau menggabungkan shalat berpatokan kepada tradisi.  


*Penulis: Mochamad Ilyas
S1 Universitas Al Iman Yaman
S2 UIN Jakarta
Saat ini sedang tugas disertasi S3 di UIN Jakarta

KHUTBAH IDUL FITRI 1435 H: KEMBALI MENUJU KESUCIAN

KHUTBAH IDUL FITRI 1435 H: KEMBALI MENUJU KESUCIAN
(Ustadz Joko Tamami)

الله اكبر 9 مرات. الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا اله الاالله والله اكبر الله اكبرولله الحمد. الحمد لله غَافِرُالذَّنْبِ وَقَابِلُ التَّوْبِ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لااله الا هو واليه المصير. أشهد أن لااله الاالله رب كل شيء وهوالعليم الخبير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الدَّاعِي وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللهم صل وسلم علي محمد الْمُصْطَفَي الْمُخْتَارُ وعلي آله وأصحابه وَمَنْ يُوَالِيْهِمْ مَنِ اتَّبَاعَهُ الأَخْيَارَ. أمابعد فياأيهاالموْمنون العائدون أصيكم وإياي نفسي بتقوي الله فِي السِّرِّوَالْعَلَنِ وَفِي كُلِّ أَحْيَانٍ فَإِنَّ اللهَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلِيٌّ وَنَصِيْرٌ

Allahu Akbar walillahil hamd
         
Kita bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya sehingga pada pagi hari ini dapat berkumpul di Musholla yang kita cintai. Berkumpul dalam dekapan kasih sayang Allah SWT dan naungan kebahagian sebagai insan bertaqwa.

Rahasia Doa Nabi Yunus yang Mustajab

Apakah rahasia di sebalik doa "La ilaha illa anta, Subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin" yang secara zahirnya seperti ringan disebut, mudah dihafal?

Bagaimana mungkin satu doa seperti ini dapat menyelematkan seseorang dari musibah yang amat besar, sebesar ditelan oleh ikan paus? Adakah doa ini khusus untuk Nabi Yunus atau umum untuk semua umat Islam?